Konflik Demokrat

Gambar

Update Media, 24 Februari 2013

Gaduh politik tidak mengenal waktu, bahkan hari libur pun pemberitaan tidak turut libur untuk memublikasikannya. Kompas Minggu, memuat headline soal pengunduran diri Ketua Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Pembicaraan yang menarik bukan soal penanganan kasusnya, tapi soal bagaimana Anas menyikapi persoalan ini dan pesan-pesan yang dilontarkan, bahwa penetapannya sebagai tersangka bukan akhir dari segalanya.

Anas mengatakan, “hari ini saya nyatakan, ini baru sebuah awal langkah-langkah besar. Hari ini saya nyatakan bahwa ini baru halaman pertama. Masih banyak halaman berikut yang akan kita buka dan baca bersama tentu untuk kebaikan kita bersama. Ini bukan tutup buku, tetapi pembukaan buku halaman pertama.

Pernyataan Anas menyiratkan adanya peran perlawanan terkait penetapannya sebagai tersangka. Perlawanan ini yang akan menjadi ujian terhadap Partai Demokrat dan mungkin juga perlawanannya terhadap Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat.

Terkait dengan kondisi partai, Anas mengatakan bahwa ujian bagi Demokrat sebagai partai bersih, cerdas, dan santun baru dimulai. Begitu juga dengan tiga etika pokok Partai Demokrat yaitu bersih, cerdas dan santun, yang akan diuji, khususnya soal santun dalam berpolitik. Menurutnya, apakah Demokrat akan menjadi partai yang santun atau partai yang sadis.

Membaca dari kacamata lain, pernyataan ini merupakan bentuk kekecewaan Anas terhadap Partai Demokrat. Partai yang mengusung politik yang santun ternyata dibalik itu menyimpan sadisme politik dari elit-elitnya. Pernyataanya juga menyiratkan sindiran kepada SBY yang sering menggunakan istilah Politik Santun, tapi justru sebaliknya.

Berdasarkan kondisi ini, Anas mengaitkannya dengan Kongres Demokrat 2010. Menurut Anas, kongres yang diibaratkan sebagai Ibu yang melahirkan, telah melahirkan Anas sebagai bayi yang lahir tidak diharapkan. Anas sebagai ketua umum yang tidak diharapkan oleh penguasa.

Kondisi itu telah mencerminkan adanya perang Bharatayuda, perang saudara antara elit partai dengan kekuatan anggota partai ditingkat bawah.

Kita tunggu saja, halaman-halaman selanjutnya dari buku perang Bharatayuda yang akan dituliskan dan dibacakan Anas. Kita tunggu janji Anas untuk memberikan kebaikan bersama bukan hanya untuk partai tapi juga publik. [veri]

Sumber Berita: diolah dari Kompas.

Sumber Gambar: http://www.rimanews.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s