Rintangan Berat Capres Alternatif

Harapan munculnya calon presiden (capres) alternatif dalam Pemilu 2014 terancam pupus. Ruang bagi masyarakat untuk memunculkan orang-orang baru akan mengalami banyak hambatan. Pemilu Presiden 2014 terancam didominasi tokoh-tokoh lama.

Kondisi itu muncul seiring dengan buntunya pembahasan Rancangan Undang-Undang Perubahan UU Nomor. 42 Tahun 2008 tentang Pemilu Presiden di Badan Legislatif (Baleg). Lima fraksi dari partai politik besar di DPR menyatakan undang-undang ini tidak perlu diubah. Kelima partai itu adalah Demokrat, Golkar, PDIP, PAN dan PKB.

Ditolaknya perubahan tersebut maka Pemilu Presiden 2014 akan diselenggarakan dengan tetap merujuk pada UU No. 42 Tahun 2008. Terkait pencalonan, undang-undang ini mengatur bahwa pencalonan presiden dan wakil presiden bisa dilakukan oleh partai politik atau gabungan partai politik yang memiliki minimal 20 persen kursi di DPR atau minimal 25 persen perolehan suara sah nasional (hasil pemilu legislatif).

Berdasarkan ketentuan tersebut, cukup dimakhlumi jika partai-partai besar menolak perubahan UU Pilpres. Dengan ketentuan itu maka partai-partai besar bisa tetap mendominasi proses pencalonan dan memastikan kandidat mereka maju dalam Pemilu 2014 dengan sedikit pesaing. Sebab partai-partai kecil dengan suara minoritas dipastikan tidak bisa mengusung calon kecuali bergabung dengan partai besar lainnya.

Menerapkan aturan itu dan juga merujuk hasil survey Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada Mei 2013, maka pencalonan akan didominasi 4 (empat) partai besar yakni PDIP dengan perolehan 14,9% suara, Golkar 14,5% suara, Demokrat 11,1% suara dan Partai Gerindra dengan 7,4% suara. Meskipun mendominasi, partai-partai ini tetap harus berkoalisi dengan partai lainnya untuk memenuhi syarat pencalonan minimal 20% kursi atau 25% suara. Kompensasi yang bisa dibagi palingan kursi wakil presiden yang akan mendampingi calon presiden dari empat partai besar tersebut.

Lantas siapa yang akan menjadi calon presiden 2014 nanti? Keempat partai itu memiliki figur capres yang cukup kuat dan semuanya merupakan orang-orang lama. PDIP misalnya, meskipun belum menentukan capresnya namun Megawati Soekarnoputri masih memiliki dukungan sangat kuat dan menjadi tokoh sentral. Apalagi beberapa survey elektabilitasnya juga cukup tinggi. Seperti LIPI, menempatkan Megawati di urutan keempat dengan 9,3%. Sedangkan Centre for Strategic and Internasional Studies (CSIS) dalam survey di bulan April juga menempatkan di urutan empat dengan 5,4%.

Golkar sudah memastikan Aburizal Bakrie (ARB) sebagai capres. Survey LIPI dan CSIS menempatkan diurutan ketiga dengan tingkat elektabilitas 9,4% dan 7%. Begitu juga dengan Gerindra yang dengan mantap mengusung Prabowo Subianto sebagai capres dengan tingkat elektabilitas 14,2% (LIPI) dan 15,6% (CSIS).

Partai Demokrat mungkin punya cerita lain, krisis figur membuat partai ini linglung dalam mengusung calon. Ada wacana konvensi partai yang akan membuka ruang bagi siapapun berpeluang menjadi capres Demokrat, menurut mereka. Karena itu, Demokrat bisa saja mencalonkan Mahfud MD, Gita Wirjawan, Dahlan Iskan, Joko Suyanto atau mungkin Irman Gusman. Tapi sebaiknya nama-nama ini tidak terlalu berharap karena konvensi mungkin hanya jadi ajang pencitraan ditengah-tengah keterpurukan partai. Juga masih ada Ani Yudhoyono yang cukup popular. Meski SBY tidak merestui, restu itu bisa diberikan pada adiknya, Pramono Edhie Wibowo yang memperoleh posisi istimewa di Demokrat. Tapi soal Demokrat, kita lihatlah dulu perkembangannya.

Dari nama-nama pesohor di atas yang umumnya wajah lama, sepertinya masih ada yang kurang. Dimana posisi sosok Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo? Jokowi ini satriyo piningit, lakon dalam setiap cerita yang muncul di babak akhir. Kemunculannya akan merusak konstalasi politik bahkan tingkat elektabilitasnya mengalahkan Megawati yang juga ketua umumnya, 22,6% (LIPI) dan 28,6% (CSIS). Tapi tetap saja, Jokowi harus nunggu restu Mega untuk dicalonkan dari PDIP. Tapi yang penting, menunggu restu Warga Jakarta mempersembahkan Jokowi untuk Indonesia.

Note: Telah dipublikasikan dalam Hukumpedia

Iklan

One thought on “Rintangan Berat Capres Alternatif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s